Ironis memang, saat hari ini kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang ke-100, namun beberapa hari kedepan rakyat akan menderita dengan kenaikan harga BBM. Sudah sesuaikah dengan makna kebangkitan itu? Rakyat bangkit, tapi yang jelas mereka bangkit untuk demo kenaikan BBM. Bangkit karena mereka tidak didaftar sebagai penerima BLT.
Belum bisa bangkit juga, karena tim bulutangkis kita tidak memegang piala Thomas & Uber. Memang sebagai bangsa yang besar, mudah-mudahan semakin banyak orang yang sadar apa makna Kebangkitan Nasional itu sendiri. Dulu kita bangkit dari penjajahan, bangkit dari kebodohan, dan sekarang saatnya kita bangkitkan semua bidang sosial, ekonomi maupun politik dalam dan laur negeri kita. Karena kita pernah menjadi macan Asia. Jangan sampai macan itu hanya tinggal belangnya saja.
Tampilkan postingan dengan label kenaikan BBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenaikan BBM. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Mei 2008
Rabu, 14 Mei 2008
Rencana Kenaikan BBM
Pemerintah berencana menaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pro dan kontra masalah ini sudah pasti tidak dapat dihindari kenapa? Rakyat kecil akan semakin menderita dengan kenaikan BBM ini, karena naiknya harga BBM berarti kenaikan harga-harga kebutuhan hidup. Bahkan sebelum BBM naik pun (baru rencana), barang-barang sudah mulai merangkak naik.
Alasan pemerintah, kenaikan harga BBM harus terjadi karena APBN tidak sanggup menanggung beban subsidi BBM yang semakin membengkak, karena minyak dunia juga semakin mahal. Kekhawatirannya, APBN sebagai sumber daya untuk pembiayaan pembangunan akan semakin minus (berarti harus utang). Ini berarti sedikit demi sedikit kita menggadaikan negara kita. Padahal kita berusaha untuk mengurangi beban utang yang dulu-dulu.
Cara terbaik gimana? BLT (bantuan langsung tunai). Tapi ini apa jaminan kalau BLT ini akan sampai ke masyarakat yang membutuhkan? Karena kalau dipikir-pikir koq hampir seperti usaha gali lubang tutup lubang aja. (coba deh pikir... ayo mikir... hehehe). Apa gak ada cara yang lebih bijak untuk mengatasi ini semua? Kita yakin koq banyak pemikir dan ekonom yang bagus di Indonesia ini. Mintalah pendapat mereka. Temukan cara yang lebih baik selain BLT (coz BLT lebih banyak digunakan untuk konsumsi dan abis, bukan untuk usaha agar BLT itu menjadi memiliki manfaat lebih panjang). Trusss gimanaa donk? Kesalahan yang dulu adalah bahwa rakyat terlalu dimanja dengan berbagai macam subsidi. Begitu sudsidi dicabut, semua belum siap.
Alasan pemerintah, kenaikan harga BBM harus terjadi karena APBN tidak sanggup menanggung beban subsidi BBM yang semakin membengkak, karena minyak dunia juga semakin mahal. Kekhawatirannya, APBN sebagai sumber daya untuk pembiayaan pembangunan akan semakin minus (berarti harus utang). Ini berarti sedikit demi sedikit kita menggadaikan negara kita. Padahal kita berusaha untuk mengurangi beban utang yang dulu-dulu.
Cara terbaik gimana? BLT (bantuan langsung tunai). Tapi ini apa jaminan kalau BLT ini akan sampai ke masyarakat yang membutuhkan? Karena kalau dipikir-pikir koq hampir seperti usaha gali lubang tutup lubang aja. (coba deh pikir... ayo mikir... hehehe). Apa gak ada cara yang lebih bijak untuk mengatasi ini semua? Kita yakin koq banyak pemikir dan ekonom yang bagus di Indonesia ini. Mintalah pendapat mereka. Temukan cara yang lebih baik selain BLT (coz BLT lebih banyak digunakan untuk konsumsi dan abis, bukan untuk usaha agar BLT itu menjadi memiliki manfaat lebih panjang). Trusss gimanaa donk? Kesalahan yang dulu adalah bahwa rakyat terlalu dimanja dengan berbagai macam subsidi. Begitu sudsidi dicabut, semua belum siap.
Label:
APBN,
BBM,
BLT,
kenaikan BBM,
minyak dunia,
subsidi,
utang LN
Langganan:
Postingan (Atom)

